Siapa yang harus ku kasihani?

Maka bermunajatlah dia dibalik panji keangkuhan
Mengemis belas namun melempar dendam
Dadihnya yang mendidih oleh murka tak bermuka
Dewa mana yang kan mengenalinya?
Sementara malaikat itu begitu bodoh membopongnya kian kemari.
Tak peduli bahwa nanah sang dewi telah menjelma menjadi peluhnya
Dia bahkan terus saja berlaku seolah tak tahu, atau mungkin memang tak ingin tahu ketika sang dewi menikam lehernya selagi menggantungkan nyawanya pada kesabarannya
Malaikat itu bersumpah akan terus berjalan sampai pada tempat dimana langit dan laut beradu, meski itu berarti dia harus menyerahkan nyawanya.
Aku pikir dia akan menyerah ketika dia membaringkan sang dewi di perbatasan tanah asing itu
Ternyata aku salah, dia simpulkan masing-masing satu kalimat doa pada setiap ranting pengharapan disana, lalu mulailah dia menyayat tubuhnya sendiri.
Dia ingin sewujud dengan sang dewi, tak kan sia-sia peluh nanah ini, pikirnya.
Sekarang mereka sedang menikmati masing-masing kebodohannya, sebelum datang mereka kepada kehidupan kedua.

Oh.. Siapa yang harus ku kasihani?
Dewi yang munafik atau malaikat naif itu?

Dari senja, untuk november kelam

Bila mega jingga, hampa
Tanpa malu dia melarung rupa
Mengawang beraninya menghina
Pengecut dari penjuru senja, rupanya

Bila terang kini tak terlihat
Ini fana mulai bermuslihat
Inginya sukma barang sesaat
Pada akhirnya itu sesat

Tiada kan zahir yang telah cair
Beku kalbuku masih tahir
Bermimpi pun tak terpikir
Ku mau, akan dan telah berakhir

Sang kejora sadarkan
Haruslah segera dia pulangkan
Ke pangkuan ratapan,
Betapapun air mata tak bertuan

Pada akhirnya ini ilusi

disadur dari https://www.facebook.com/notes/matius-nugroho-aryanto/dari-senja/423786447657279

Selamat Ulang Tahun

Biarkan waktu terus berlalu
Jangan cegah mentari tenggelam bersama masa lalu
Tetapi biarlah esok ia terbit dengan sejuta harapan
Dan sinarNya menghangatkan tubuhmu
Memberimu kesehatan dan kekuatan sepanjang hari
Tatkala pagi pancarkan sinarnya pagi ini
Jiwamu telah bertumbuh
Tanpa terasa tahun penuh suka duka
Terlewati sudah seiring berjuta kesan
Dan kini sambutlah kedewasaanmu
Hidup bukan semakin mudah
Tapi tetaplah jalani tanpa ragu
Karena aku kan selalu ada di sampingmu
Ku sampaikan pada mentari
Tuk sinarimu sepanjang hari
Supaya kau selalu terlindung dalam terang
Kulukiskan pelangi di awang
Agar kau selalu bahagia di tiap hembus nafasmu
Dan kutaburkan bintang di langit malam
Agar kau takkan kesepian di tengah kegelapan
    Aku bukanlah insan berharta
Bukan emas perak kan ku persembahkan
Kupersembahkan doa putih setulus hati
Satu kata dari hati terdalam padamu teruntuk
Tiada hal lain yang dapat ku hibah tuk mu
Tulus suci ku ucapkan “Selamat Ulang Tahun”

Aku Ingin

By: Matius Nugroho

Aku enggan melepas mentari
Terlalu indah kisah tuk ku tinggali
Aku Tak ingin senja menjelang
Aku takut tak ku temui pagi

Aku ingin hari seperti ini selalu
Ada dia di samping ku
Hembuskan kasih di tiap nafas
Pagi ini, hari ini

Ku tahu ku tak mampu hentikan waktu
Tapi ku ingin hari tak berlalu
Bersamanya selalu
Pengisi Ruang Rindu

Siapakah Aku Ini ??

Sungguh tiada lagi kuasa jiwa
Menopang raga ini pun tak mampu
Terombang ambing bimbang
Meronta sukma kehilangan daya

Siapakah aku berani bermimpi
Sedang diri terasing sepi
Siapa kan peduli
Manusia kecil seperti ini

Aku memang manusia kecil
Di antara mereka tak dianggap
Memang siapakah aku ini
Tapi inikah caranya ?

Aku memang manusia kecil
Yang tak mampu nyatakan
Maya segenap mimpi yang tersisa
Memang siapakah aku ini ??

By : Matius Nugroho Aryanto
Manusia kecil







Aku Tersiksa

Ya
Aku tersiksa
Tekulai tak berdaya
Tak mampu ku menyapa pagi
Tak dapat ku lihat Matahariku hari ini

Sepi, sesak, berselimut resah
Ingin ku bangkit dan kembali
Ku coba sekuat tenaga
Aku tak bisa diam begini
Tapi angin pancaroba memaksaku berbaring

Tuhan...
Aku ingin segera pulih kini
Tiada dapat ku tahan lagi
Hasrat tuk kembali merintis mimpi
Semoga ini takkan lama

Mungkinkah yang Tak Pasti

Mungkinkah yang tak mungkin
Menjadi mungkin ,meski kecil ku yakin
Pastikah yang tak pasti
Menjadi nyata pasti

Yakinkan aku akan mungkinnya
Kepastian dari tak kepastian
Yang ku ragu akan geraknya
Sngguh tersiksa aku oleh mungkinnya

salahkah aku merindukanmu

Salahkah aku berdiri disini
Menunggu kerinduan yg tak pasti
Ku masih berharap dan takkan berhenti
Entah engkau hendak kembali

Salahku
Kubiarkan kau pergi tanpa kau tahu
Wahai purnama bermata sayu
Aku mencintaimu setulus hati

Salahkah aku merindukanmu
Angin selatan yang menderu
Membawa benih perdu cinta padaku
Dan kini tumbuh,justru setelah berlalu

Kesejukan yg tiada tara yg kau bawa
Terbangkan paruh raga ke angkasa
Membawaku ke negeri khayangan
Dan kaulah sang dewi yg duduk di singgasana

Mungkinkah kembali
Sang dewi pujaan hati
Oleh karena cinta ini terlalu suci
Ku akan setia tuk menanti

karena hanya kaulah di setiap hembus nafasku
Sampai terhenti usiaku

Aku Rindu

 by: matiusnugroho.blogspot.com
Sang mentari perlahan beranjak
Menjelang malam nan sunyi
Dingin angin malam membelai wajahku
Sunyi sepi selimuti hati yang tersiksa
   
    Aku rindu rupanya
Hujan turun malam mini
Mengguyur deras jiwaku yang bimbang
Di antara rintiknya terbias parasmu nan elok
Rinduku terfotomorgana dalam angan fana

Kucoba pejamkan mata ini
Namun senyummu merusak otakku
Kumasih terjaga
Terkatung-katung menunggu pagi

Dingin malam tak lagi kurasa
Seluruh tubuhku mati rasa
Hanya ragaku sakit menanti dirimu
Ah….lama sekali malam ini kurasa
    Aku Rindu Rupanya

Elegi Tahun Lalu

ELEGI TAHUN LALU


Tahun lalu....
Begitu cepat berlalu,
Tatkala aku setia menunggu.
                Masih teringat
                Dan akan selalu kuingat
                Kata yang ia ucap
                Tak seperti yang ku harap
Aku tahu apa yang ia tahu
Aku tahu apa yang ia mau
Bahkan ia tak tahu yang ku mau
Dan tak seorangpun akan tahu
                Luka tahun lalu
                Yang Ia toreh di hatiku
                Semakin leleh seiring laju waktu
Lukaku karena menunggu
Hadirnya,  sang hidup baru
Mungkin Ia lupa padaku
Tapi cinta kasihku takkan layu
                Untukmu, yang kurindu
                Siang malam selalu